Makin Diminati, Limbah Kopi Petani Garut Diolah Jadi Produk Kaya Nutrisi

  • Bagikan
limbah kopi di Garut
Industri kopi di Indonesia terutama di Garut semakin berkembang seiring banyaknya minat oleh semua kalangan masyarakat./ Foto Ilustrasi Tanaman Kopi / Istimewa

GARUT, INDOtayang.COM– Industri kopi di Indonesia semakin berkembang seiring banyaknya minat oleh semua kalangan masyarakat. Budidaya kopi harus dukung secara masif guna mengembangkan potensi tersebut.

Salah satu petani kopi dari Kamojang, Garut, Jawa Barat, Darmin menceritakan hasil budidaya kopinya hingga membuka lapangan pekerjaan di dekat tinggalnya itu. Apalagi sedikitnya ada 21,65 persen masyarakat usia produktif tidak memiliki pekerjaan tetap dan 3,671 hanya lulusan sekolah dasar.

Sebanyak 587 masyarakat merupakan keluarga miskin dan di sana pula ada 9 ton per tahun limbah kopi yang belum dimanfaatkan.

Menurut Darmi, program budidaya kopi Garut bernama Kopi Wanakan dan Pelag yang melibatkan kelompok tani Gunung Kamojang ini cukup efektif. Sebab, sudah menghasilkan sederet manfaat bagi masyarakat sekitar dan lingkungan.

Manfaat Untuk Lingkungan

Manfaat untuk lingkungan misalnya dengan pengurangan pencemaran tanah sebesar 321 kg PO 4-3.

Menekan pencemaran air 1.140 kg SO 2eq, dan penyerapan CO2 Ton CO 2eq.

Sementara itu, manfaat sosial dengan memberikan akses kepada kelompok tani yang berjumlah 271 orang untuk terlibat budidaya kopi dari hulu sampai hilir.

“Untuk segi ekonomi, budidaya itu menghasilkan peningkatan nilai jual kopi dari Rp5.000 per kilo menjadi Rp120.000 per kilo. Pendapatan pelaku budidaya kopi juga meningkat 67 persen dan pengentasan kemiskinan 65 persen,” kata Darmin, Sabtu (4/12/2021).

Oleh sebab itu, budidaya kopi di Garut menggunakan dua metode yang mendorong hasil lebih maksimal dan manfaat lebih besar. Metode itu dengan penggunaan EBT solar cell yang mana membuat penghematan biaya produksi senilai Rp6 juta per tahun dan pengembangan budidaya lebah untuk membantu penyerbukan tanaman kopi.

Sementara itu Darman yang merupakan binaan dari Indonesia Power (IP) menjelaskan, budidaya kopi itu pun mengutamakan unsur-unsur kebaruan, seperti pengelolahan limpah sampai zero waste dengan menciptakan produk yang bermanfaat.

“Di Desa Kamojang itu efek industri kopi awalnya ada 9 ton limbah kopi per tahun yang terbuang dan tidak bermanfaat. Limbah itu lalu mereka olah menjadi produk kaya nutrisi seperti Cascara Cookies dengan omzet per tahun Rp21.600.000, hand sanitizer dan desinfektan kopi yang omzet per tahun Rp17.430.000, pellet pakan ikan menghasilkan omzet Rp2.400.000 per kuintal, dan teh Cascara omzetnya mencapai Rp26.400.000 per tahun,” jelasnya.

  • Bagikan